Get me outta here!

Rabu, 04 Desember 2013

Makalah Fermentasi


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Ikan merupakan sumber protein hewani dan juga memiliki kandungan gizi yang tinggi di antaranya mengandung mineral, vitamin, dan lemak tak jenuh. Protein dibutuhkan tubuh untuk pertumbuhan dan pengganti sel-sel tubuh kita yang telah rusak. Selain air, protein merupakan bagian utama dari susunan (komposisi) tubuh kita.
Protein dalam ikan berguna untuk :
1. Mempercepat pertumbuhan badan (baik tinggi maupun berat).
2. Meningkatkan daya tahan tubuh.
3. Mencerdaskan otak/mempertajam pikiran.
4. Meningkatkan generasi/keturunan yang baik.
Ikan memiliki kadar protein yang sangat tinggi yaitu sekitar 20 %. Di samping itu protein yang terkandung dalam ikan mempunyai mutu yang baik, sebab sedikitmengandung kolesterol dan sedikit lemak. Di samping kelebihan tersebut, ikan memiliki kelemahan yakni mudah membusuk. Ikan relatif lebih cepat mengalami pembusukan daripada daging unggas dan mamalia karena pada saat ditangkap ikan selalu berontak sehingga banyak kehilangan glikogen dan glukosa. Glikogen dan glukosa pada hewan yang mati dapat mengalami glikolisis menjadi asam piruvat yang selanjutnya diubah menjadi asam laktat. Apabila ikan terlalu banyak berontak pada saat ditangkap maka akan banyak kehilangan glikogen dan glukosa sehingga kandungan asam laktat ikan menjadi rendah. Dengan demikian nilai pH-nya relatif mendekati normal.
Nilai pH yang mendekati normal ini sangat cocok untuk pertumbuhan bakteri, sehingga ikan segar harus segera diolah dengan baik agar layak untuk dikonsumsi.
Pengolahan ikan ini dilakukan untuk memperbaiki cita rasa dan meningkatkan daya tahan ikan mentah serta memaksimumkan manfaat hasil tangkapan maupun hasil budidaya. Pengolahan ikan meliputi cara memilih ikan segar, perlakuan pada ikan, dan cara menghambat kebusukan.
Fermentasi  merupakan  suatu  cara pengolahan melalui proses memanfaatkan penguraian senyawa dari bahan-bahan protein kompleks. Protein kompleks tersebut terdapat dalam tubuh ikan yang diubah menjadi senyawa-senyawa lebih sederhana dengan bantuan enzim yang berasal dari tubuh ikanatau mikroorganisme serta berlangsung dalam keadaan yang terkontrol atau diatur.
Proses fermentasi yang terjadi pada ikan merupakan proses penguraian secara biologis atau semibiologis terhadap senyawa-senyawa komplek terutama protein menjadi senyawasenyawa yang lebih sederhana dalam keadaan terkontrol. Selama proses fermentasi, protein ikan akan terhidrolisis menjadi asam-asam amino dan peptida, kemudian asam-asam amino akan terurai lebih lanjut menjadi komponen-komponen lain yang berperan dalam pembentukan cita rasa produk.
B.     Tujuan
Ø  Agar mahasiswa mengetahui tentang fermentasi
Ø  Agar mahasiswa  mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi fermentasi





BAB II
PEMBAHASAN
A.Pengertian Fermentasi
Proses fermentasi ikan yang merupakan proses  biologis  atau  semibiologis pada prinsipnya  dapat  dibedakan  atas  empat golongan, yaitu sebagai berikut :
a. Fermentasi menggunakan kadar garam tinggi, misalnya dalam pembuatan peda, kecap ikan, terasi dan bekasem.
b. Fermentasi  menggunakan  asam-asam organik, misalnya dalam pembuatan silase ikan dengan cara menambahkan asam-asam propionat dan format.
c. Fermentasi  menggunakan  asam-asam mineral, misalnya dalam pembuatan silase ikan menggunakan asam-asam kuat.
d. Fermentasi  menggunakan  bakteri, misalnya dalam pembuatan bekasem dan chao teri.
Produk fermentasi yang menggunakan kadar garam tinggi mengakibatkan rasa asin, sehingga sumber protein yang diambil hanya sedikit. Sedangkan  fermentasi  dengan menggunakan  asam-asam  organik  belum populer di kalangan nelayan. Cara pengolahan dengan menggunakan prinsip fermentasi yang paling  mudah  dilakukan  adalah  proses fermentasi menggunakan bakteri asam laktat. Pada proses fermentasi bakteri asam laktat juga ditambahkan garam sebagai perangsang pertumbuhan bakteri asam laktat. Fermentasi asam laktat pada ikan merupakan gabungan dari fermentasi garam dengan fermentasi asam laktat, contoh produk fermentasi asam laktat diantaranya adalah wadi, pekasam, ronto, dan chao teri.
1. Fermentasi Garam
Fermentasi  garam  dapat  dibedakan dengan dua cara, yaitu :
a. Fermentasi dengan cara penggaraman kering, biasanya dilakukan terhadap ikanikan yang mempunyai kandungan  lemak rendah.
b. Fermentasi dengan cara penggaraman basah, yaitu merendam di dalam larutan garam dan cara tersebut biasanya dilakukan terhadap ikan-ikan berlemak tinggi.
Fermentasi dengan cara penggaraman basah biasanya juga terjadi fermentasi laktat.
Pada cara itu, sering ditambahkan cuka, bumbu-bumbu dan bahan pengawet lainnya.
Penambahan garam dalam fermentasi ikan mempunyai beberapa fungsi antara lain :
a. Meningkatkan rasa ikan
b. Membentuk tekstur yang diinginkan
c. Mengotrol  mikroorganisme,  yaitu merangsang pertumbuhan mikroorganisme yang diinginkan berperan dalam fermentasi, dan  menghambat  pertumbuhan mikroorganisme pembusuk dan patogen.
2. Fermentasi Laktat
Fermentasi asam laktat dapat terjadi sebagai akibat aktivitas bakteri asam laktat yang dibedakan menjadi dua kelompok yaitu :
1. Bakteri asam laktat homofermentatif. Bakteri ini dapat mengubah 95% dari glukosa atau heksosa lainnya menjadi asam laktat.  Karbondioksida  dan  asam-asam volatil  lainnya  juga  dihasilkan,  tetapi jumlahnya sangat kecil. 
2. Bakteri asam laktat heterofermentatif, mengubah glukosa dan heksosa lainnya menjadi asam laktat, etanol, asam asetat, asam format dan CO 2 dalam jumlah yang hampir sama.
3. Mikroorganisme yang Berperan dalam Fermentasi
Proses fermentasi bahan makanan pada dasarnya sebagai hasil kegiatan beberapa jenis mikroorganisme  diantara  beribu-ribu  jenis bakteri, khamir dan kapang.


Oleh karena itu, dalam  membahas  berbagai  jenis mikroorganisme yang  berperan  dalam fermentasi bahan makanan tradisional, akan bertitik tolak dari ketiga jenis mikroorganisme di atas, yaitu bakteri, khamir dan kapang.
4. Beberapa Faktor yang Mempengaruhi Proses Fermentasi
Fermentasi bahan pangan merupakan hasil kegiatan beberapa mikroorganisme. Agar proses fermentasi dapat berjalan dengan baik, tentunya beberapa faktor yang mempengaruhi kegiatan dari mikroorganisme perlu pula diperhatikan. Sehingga apabila kita berbicara mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi proses fermentasi, tentunya tidak lepas dari kegiatan mikroorganisme itu sendiri. Beberapa faktor utama yang mempengaruhi proses fermentasi meliputi suhu, oksigen, air dan substrat.
a. Suhu    
Suhu sebagai salah satu faktor lingkungan terpenting  yang  mempengaruhi  dan menentukan macam organisme yang dominan selama fermentasi. Beberapa hal sehubungan dengan suhu untuk setiap mikroorganisme dapat digolongkan sebagai berikut :
- Suhu minimum, di bawah suhu itu pertumbuhan mikroorganisme tidak terjadi lagi.
- Suhu  optimum,  sebagai suhu yang memungkinkan pertumbuhan mikroorganisme paling cepat.
- Suhu maksimum, di atas suhu itu pertumbuhan mikroorganisme tidak mungkin terjadi lagi.
b. Oksigen
Udara  atau  oksigen  selama  proses fermentasi harus diatur sebaik mungkin untuk memperbanyak  atau  menghambat pertumbuhan mikroba tertentu. Setiap mikroba membutuhkan  oksigen  yang  berbeda jumlahnya  untuk  pertumbuhan  atau membentuk sel-sel baru dan untuk fermentasi.
C. Substrat
Seperti  halnya  makhluk  lain, mikroorganisme juga membutuhkan suplai makanan yang akan menjadi sumber energi, dan menyediakan unsur-unsur kimia dasar untuk pertumbuhan sel. Substrat (makanan) yang  dibutuhkan  oleh  mikroba  untuk kelangsungan hidupnya  berhubungan erat dengan komposisi kimianya.Kebutuhan mikroorganisme akan substrat juga berbeda-beda. Ada yang memerlukan substrat lengkap dan ada pula yang tumbuh subur dengan substrat yang sangat sederhana. Hal itu karena beberapa mikroorganisme ada yang memiliki sistem enzim (katalis biologis) yang dapat mencerna senyawa-senyawa yang tidak dapat dilakukan oleh mikroorganisme lain.Komposisi kimia hasil pertanian yang terpenting adalah ptotein, karbohidrat dan lemak. Pada pH 7,0 protein mudah sekali digunakan oleh bakteri sebagai substrat. Karbohidrat seperti pektin, pati dan lainnya merupakan substrat yang baik bagi kapang dan beberapa khamir.
d. Air
Mikroorganisme  tidak  dapat  tumbuh tanpa adanya air. Air dalam substrat yang digunakan untuk pertumbuhan mikroorganisme dinyatakan dalam istilah water activity atau aktivitas air = aw, yaitu perbandingan antara tekanan uap dari larutan (P) dengan tekanan uap air murni (Po) pada suhu yang sama.
5. Kerusakan pada Produk Fermentasi Hasil Perikanan
Produk fermentasi hasil perikanan dapat mengalami kerusakan jika  tahapan yang dilakukan tidak tepat. Suhu penyimpanan yang terlalu tinggi juga akan mengakibatkan enzim menjadi tidak aktif dan pertumbuhan bakteri yang diinginkan menjadi terhambat.Apabila suhu terlalu rendah akan mengakibatkan bakteri yang tidak kita inginkan tumbuh.
Kadar garam yang tidak sesuai dengan pertumbuhan bakteri  halofilik  mengakibatkan  bakteri proteolitik tidak dapat tumbuh, justru bakteri pembusuk yang akan tumbuh. Disamping itu, alat-alat yang digunakan harus steril demikian juga pada saat proses pengolahan. Jadi yang tumbuh hanya mikroorganisme yang diinginkan bukan bakteri pembusuk dan patogen yang justru  tumbuh  sehingga  mengakibatkan kerusakan pada produk fermentasi.
 6. Berbagai Hasil Olahan Fermentasi
Dapat  dikatakan,  pengolahan  hasil perikanan  dengan  cara  fermentasi  lebih sederhana pengolahannya serta lebih mudah dibandingkan dengan cara membuat pindang atau ikan asap. Produk hasil fermentasi antara lain ikan peda, terasi, kecap ikan dan bekasem.
1. Peda
Peda  merupakan  produk  fermentasi dengan bahan baku ikan. Pada umumnya dibuat untuk ikan yang berkadar lemak tinggi. Selama atau pada waktu fermentasi akan terjadi perubahan kimia antara lain proses reaksi pada lemak yang memberikan cita rasa khas.Jenis ikan yang dapat diolah menjadi ikan peda antara ain ikan Kembung, ikan Layang, Selar, ikan Mas, Tawes dan ikan Mujair. Tetapi ternyata hasil yang paling memuaskan adalah ikan Kembung, baik Kembung betina maupun jantan. Sedangkan untuk jenis ikan lainnya memiliki cita rasa yang masih kalah dengan ikan Kembung bila diolah menjadi peda. Berdasarkan pembuatannya dikenal dua jenis peda, yaitu peda putih dan pedamerah. Perbedaan itu dikarenakan bahan baku yang digunakan.
Ciri-ciri peda yang baik antara lain berwarna merah segar, tekstur dagingnya maser, pHnya 6,0-6,4, rasanya khas disebabkan adanya proses fermentasi. Pada umunya, konsumen lebih menyukai peda yang berwarna merah. Hal ini karena peda yang berwarna merah kandungan lemaknya tinggi yang akan memenuhi cita rasa peda. Kandungan lemak peda merah berkisar antar 7-14% yang memberikan  rasa  gurih.  Warna  yang kemerahan merupakan salah satu faktor disenangi oleh  konsumen. Disamping  itu tekstur peda merah lebih maser dibandingkan peda putih.
Cara pengolahan ikan peda sangat bervariasi. Walaupun demikian, pembuatan peda  mempunyai  fermentasi  penggunaan bahan tambahan garam dan dilakukan secara tradisional.  Tahap-tahap  pengolahan  peda antara lain adanya sortasi terhadap bahan baku, proses pengaraman, fermentasi dan pematangan.
Untuk  pembuatan  peda  secara tradisional, waktu pematangan tidak terlalu lama sehingga cita rasa yang dihasilkan tidak terlalu tajam. Pada pembuatan peda dalam skala laboratorium telah diadakan beberapa usaha untuk meningkatkan mutu peda, yaitu penambahan waktu fermentasi dari tiga hari menjadi lima hari, membersihkan ikan dengan larutan garam 10%, penambahan antibiotik dan antioksidan,  memperpanjang  waktu pematangan menjadi 60 hari, menyimpan dalam  wadah  plastik  yang  terjamin kebersihannya, memberikan tambahan nutrisi bagi mikroba fermentasi dan penambahan starter  (bibit  mikroba  fermentasi)  pada pembuatan peda.
Tahapan pengolahan peda
1.Sortasi terhadap bahan baku yang akan diolah,  dilakukan 
penyiangan  dengan membuang isi perut dan insang kemudian cuci bersih agar peda yang dihasilkan kualitasnya baik.
2.Ikan  yang  sudah  disiangi  dilakukan penggaraman 25%.
3.Disimpan dalam wadah dan disusun berlapis, kemudian ditutup dan dilakukan proses fermentasi tahap pertama selama 1-2 hari.
4.Selanjutnya dilakukan pembongkaran dan dibersihkan dari garam, disimpan kembali kedalam  wadah  dan  dilakukan  proses fermentasi tahap kedua agar terbentuk cita rasa yang khas. Tahap itu disebut dengan tahap pematangan.

Pada tahap itu dapat dilakukan fermentasi selama satu minggu sampai beberapa bulan, tergantung pada cita rasa yang diinginkan.
7. Mikroorganisme yang Berperan
Bakteri yang ditemukan pada ikan peda terutama dari jenis bakteri gram positif berbentuk koki, bersifat nonmotil, hidup secara aerob atau fakultatif anaerob, bersifat katalase positif, serta bersifat proteolitik. Disamping itu, kebanyakan bakteri tersebut juga bersifat indol dan oksigen negatif, beberapa diantaranya dapat  mereduksi  nitrat  dan  dapat menggunakan sitrat sebagai sumber karbon untuk hidupnya.
Bakteri yang diisolasi dari ikan peda mempunyai sifat pertumbuhan yang mesofilik dengan pH 6-8 dan termasuk ke dalam kelompok bakteri haloteran sampai bakteri halofilik.  Pada  ikan  ada  bakteri  yang membentuk warna merah/orange. Kebanyakan pigmen yang terdapat pada bakteri dapat diklasifikasikan  ke  dalam  jenis  pigmen karotenoid, antosianin, tripilrilmethen, dan phenazin.
Mikroba  yang  berperan  selama fermentasi peda adalah mikroba yang berasal dari ikan itu sendiri atau dari garam yang ditambahkan. Untuk mengetahui dengan tepat bakteri yang terdapat pada peda diperlukan identifikasi lebih lanjut. Namun dari beberapa uji yang dilakukan maka mikroba-mikroba tersebut  diduga  dari  bakteri  jenis Acinetobacter,  Flavobacterium,  Cytophaga, Halobacterium atau Halococcus yang termasuk dalam bakteri gram negatif. Sedangkan untuk bakteri  gram  positif  diduga  dari  jenis Micrococcus,  Staphylococcus dan Corynebacterium.
Perubahan Selama Fermentasi Peda
Peda yang baik adalah peda yang berwarna  merah,  teksturnya  maser,  dan mengandung  nutrisi  yang  cukup  tinggi, Mutu peda tersebut sangat dipengaruhi oleh  jenis  ikan  yang  digunakan,  cara pengolahan,  dan  cara  penyimpanannya.
Selama proses fermentasi terjadi penurunan kadar air akibat penambahan garam yang sifatnya menarik air bahan.
Pada fermentasi tahap I, penambahan garam penurunan kadar air tinggi sampai waktu tertetu, dan tidak terjadi lagi penurunan kadar air hingga kadar airnya stabil.Garam yang masuk kedalam daging ikan akan menyebabkan terjadinya perubahan kimia dan fisik terutama protein. Garam akan mendenaturasi protein dan mengakibatkan koagulasi. Akibat dari proses itu, air akan keluar dari tubuh ikan dan daging ikan akan mengkerut.Pada fermentasi tahap II akan terjadi pemecahan protein,lemak dan komponen lainnya. Pada tahap itu enzim yang  berperan adalah enzim yang berasal dari jaringan ikan. Aktivitas enzim selanjutnya akan merangsang aktivitas yang dihasilkan oleh mikroba. Selama fermentasi, asam-asam amino akan mengalami peningkatan akibat adanya pemecahan protein selama fermentasi. Pemecahan disebabkan oleh enzim proteolitik yang terdapat dalam jaringan itu sendiri dan enzim yang dihasilkan oleh mikroba.
Enzim proteolitik yang terdapat dalam jaringan tubuh ikan terutama terdapat dalam saluran  pencernaan,  yaitu  bagian  pilorik caecum dan lendir usus. Pada pembuatan peda apabila bagian-bagian tersebut dihilangkan maka kandungan enzim proteolitik dari jaringan ikan jauh berkurang dan yang banyak aktif adalah enzim dari aktivitas mikroba. Enzim proteolitik dari bakteri terutama dihasilkan oleh bakteri yang bersifat halofilik.
Adanya  air  mengakibatkan  proses penguraian lemak menjadi asam lemak dan gliserol dapat berjalan dengan baik. Enzim lipase yang aktif dapat berasal dari jaringan otot dan adiposa, juga berasal dari bakteri.Hasil degradasi protein dan lemak dapat menghasilkan senyawa cita rasa, bau khas pada peda disebabkan karena adanya senyawa metil keton, butil aldehid. Selain itu, kandungan asam amino nitrogen yang tinggi juga dapat mempengaruhi cita rasa peda.
Konsistensi maser pada peda sangat dipengaruhi oleh kandungan lemak yang tinggi dan adanya enzim proteolitik yang akan mengubah tekstur ikan sehingga menjadi maser.
Sedangkan warna merah pada peda selain disebabkan bahan baku, enzim dari bakteri disebabkan pula karena selama fermentasi terjadi interaksi antara karbonil yang berasal dari oksidasi lemak dengan gugus asam amino dan protein.
2.Terasi
Salah satu produk olahan dari hasil perikanan sebagai  usaha pemanfaatan ikan atau udang yang berkualitas rendahadalah terasi. Terasi merupakan produk perikanan yang berbentuk pasta. Bahan baku yang biasa digunakan  untuk  terasi  berkualitas  baik. Sedangkan terasi bermutu rendah biasanya dibuat dari limbah ikan, sisa ikan sortiran dengan bahan tambahan biasanya tepung tapioka atau tepung beras, dan berbagai jenis ikan kecil (teri) atau udang kecil (rebon). Umumnya terasi digunakan untuk campuran membuat sambal, adakalanya digunakan pula untuk campuran pada masakan lain.
Kandungan padatan (protein, garam, Ca dan sebagainya) terasi udang sekitar 27-30%, air 50-70% dan garam 15-20%. Sedangkan terasi yang dibuat dari kandungan protein 2045%, kadar air 35-50%, garam 10-25% dan komponen lemak dalam jumlah yang kecil sedangkan kandungan vitamin B 12 cukup tinggi.
Mikroba yang ditemukan pada produk akhir fermentasi dengan penambahan garam pada ikan terutama dari jenis Micrococci dan penurunan  pada  jumlah  mikroba Flavobacterium, Achromobacter, Pseudomonas, Bacillus dan Sarcina yang semula banyak terdapat pada ikan.
Mikroba yang dapat diisolasi dari terasi antara lain bakteri Micrococcus, Aerococcus, Corynebacterium, Flavobacterium, Cytophaga, Bacillus,  Halobacterium  dan  Acinetobacter selain beberapa jenis kapang.
8. Perubahan Selama Fermentasi
Campuran garam, rebon dan bahanbahan lainnya pada pembuatan terasi pada awalnya mempunyai nilai pH sekitar 6 dan selama proses fermentasi pH terasi yang terbentuk akan naik menjadi 6,5, akhir setelah terasi selesai terbentuk maka pH turun kembali menjadi 4,5. Apabila fermentasinya dibiarkan berlanjut maka akan terjadi peningkatan pH dan pembentukan amonia. Apabila garam yang digunakan  selama  fermentasi  kurang ditambahkan maka campuran tersebut akan terus berlanjut dan akan terjadi pembusukan karena amonia yang terbentuk terdapat dalam jumlah yang besar. Hal itu dapat terjadi apabila pemberian garam kurang dari 10%.
Selama  proses  fermentasi,  protein terhidrolisis  menjadi  turunannya,  seperti protease, pepton, peptida dan asam amino. Terasi yang mempunyai kadar air 26-42% adalah terasi yang baik, karena apabila kadar air terasi terlalu rendah, maka permukaan terasi akan diselimuti oleh kristal-kristal garam dan tekstur terasi menjadi tidak kenyal. Apabila kadar air terasi terlalu tinggi maka terasi akan menjadi terlalu lunak.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemeraman atau proses fermentasi ikan untuk terasi dapat menghasilkan aroma yang khas. Komponen aroma tersebut berupa senyawa yang mudah menguap terdiri atas 16 macam senyawa hidrokarbon, 7 macam alkohol, 46 macam karbonil, 7 macam lemak, 34 macam senyawa  nitrogen,  15  macam  senyawa belerang,  dan  senyawa-senyawa  lainnya sebanyak 10 macam. Persenyawaan tersebut antara lain akan menghasilkan bau amonia, asam, busuk, gurih dan bau-bau khas lainnya. Adanya campuran komponen bau yang berbeda dengan jumlah yang berbeda pula akan menyebabkan pasta ikan mempuyai bau/aroma yang khas pula menurut daerah asal dan proses pembuatannya.Komponen cita rasa yang terdapat pada terasi dapat dijabarkan sebagai berikut ini. Asam lemak yang bersifat volatil menyebabkan bau keasaaman,
sedangkan amonia dan amin menyebabkan bau anyir beramonia. Senyawa belerang sederhana seperti sulfida, merkaptan dan  disulfida  menyebabkan  bau  yang merangsang  pada terasi. Senyawa-senyawa karbonil besar sekali kemungkinannya dapat memberikan bau khusus yang terdapat pada hasil-hasil perairan yang diawetkan dengan carapengeringan, penggaraman atau dengan cara fermentasi.
Senyawa-senyawa volatil yang terdapat dalam terasi berasal dari lemak melalui proses oksidasi dan karena adanya aktivitas mikroba. Kandungan  karbonil  volatil  merupakan kandungan senyawa volatil yang tersebar diantara komponen volatil lainnya. Senyawa tersebut merupakan senyawa yang sangat menentukan cita rasa dari terasi. Cita rasa yang ditimbulkan oleh senyawa karbonil selain dari hasil degradasi lemak juga dapat ditimbulkan dari reaksi pencoklatan/browning pada produk perikanan.
3.Kecap Ikan
Kecap ikan sebagai salah satu produk fermentasi ikan. Kecap ikan memiliki cita rasa yang berbeda dengan kecap yang dibuat dari kacang kedelai. Warnanya bening kekuningan sampai coklat muda dengan rasa asin yang relatif serta banyak mengandung senyawasenyawa nitrogen. Selain komponen nitrogen, kecap ikan juga mengandung mineral yang penting bagi tubuh, contohnya garam NaCl atau garam kalsium.
Kecap ikan mempunyai kandungan gizi tinggi karena mengandung nitrogen. Pada proses pengolahan kecap protein ikan akan terhidrolisis.  Berdasarkan  hasil  penelitian selama proses, amino nitrogen akan mengalami peningkatan tetapi akan terjadi penurunan total nitrogen. Amino nitrogen merupakan unsur gizi yang baik untuk tubuh karena mudah dicerna. Mikroba yang telah berhasil diisolasi dari produk kecap ikan antara lain bakteri halofilik dan khamir. Kapang yang ditemukan seperti Cladosporium herbarum, Aspergillus fumigatus dan Penicillium notatum. Sedangkan dari jenis khamir berupa  Caudida  clausenii.
Beberapa jenis bakteri yang berperan dalam tahapan pembuatan kecap ikan sebagai berikut:
a. Pada awal fermentasi Bacillus sp, terutama B. coagulans, B. megaterium dan B. subtilis
b. Pada  pertengahan  fermentasi Staphylococcus epidermis, B. lincheniformis, Micrococcus calpogenes
c. Pada akhir fermentasi M. varians dan M. saprophyticus
Beberapa jenis bakteri tersebut baik secara  tunggal  maupun  bersama  akan menghasilkan  enzim  yang  mampu mendegradasi komponen dalam tubuh ikan dan menghasilkan senyawa yang khas pada produk kecap ikan. Jumlah mikroba yang ada pada kecap  akan  berkurang  dengan  semakin lamanya proses fermentasi. Hal itu terjadi karena terbentuknya asam.
Perubahan Selama Fermentasi Kecap Ikan
Selama proses fermentasi kecap ikan akan terjadi aktivitas enzim protease, lipase dan amilase. Enzim-enzim tersebut diproduksi oleh mikroba yang berperan dalam proses pengolahan kecap adalah enzim yang memang sudah terdapat pada jaringan ikan yaitu tripsin, katepsin dan sebagainya.
4.Bekasam     
Bekasam merupakan produk olahan ikan dengan cara fermentasi yang rasanya asam. Olahan tersebut banyak dikenal di daerah Jawa Tengah dan Sumatera Selatan. Ikan yang dapat digunakan sebagai bekasam merupakan jenis ikan air tawar seperti Lele, ikan Mas, Tawes, ikan Gabus, Nila dan Mujair.Pengolahan  bekasam  di  daerah Kalimantan Selatan umumnya dikenal dengan nama samu.
Bahan baku berupa ikan Gabus, ikan Betok, ikan Sepat siam dan Sepat rawa dengan penambahan garam sekitar 15-20%, dan ditambahkan samu atau beras ginseng sebanyak 15%, kemudian difermentasi + satu minggu sampai menghasilkan aroma dan rasa yang khas bekasam.

Pembuatan Bekasam
Alat dan Bahan
a.Alat :
- Pisau
- Baskom
- Toples
b.Bahan :
- Sepat rawa segar 2 kg
- Garam 300 gr
- Beras 300 gr

Prosedur kerja
b. Ikan sepat rawa disiangi, buang bagian insang, isi perut dan sisik kemudian cuci bersih.
c. Ikan yang sudah dicuci bersih dan ditiriskan  kemudian  dilumuri  dengan garam 15%.
d. Ikan yang sudah dilumuri garam disusun ke dalam toples, kemudian setiap lapisan ditaburi beras gonseng sampai lapisan terakhir.
e. Tutup toples kemudian fermentasi selama satu minggu.
5.Wadi
Menurut Estiawati (1993), wadi adalah salah satu produk ikan awetan yang diolah secara  tradisional  dengan  metode penggaraman dan dilanjutkan dengan proses fermentasi.
Wadi adalah ikan yang masih utuh namun  menghasilkan  aroma  fermentatif, bentuknya tidak mengalami perubahan atau tetap  serupa  dengan  bahan  baku  dan merupakan salah satu olahan tradisional Kalimantan Selatan.
Ikan yang umum diolah menjadi wadi adalah ikan Betok (Anabas testudineus), ikan Gabus (Channa striata) dan ikan air tawar pada umumnya, tetapi tidak tertutup kemungkinan juga untuk ikan laut. Berdasarkan hasil penelitian Junaidi (2005) dan Ranggono (2005), Cumi-cumi juga dapat diolah menjadi produk wadi dan disukai oleh konsumen karena teksturnya lebih lunak dibandingkan dengan Cumi-cumi kering.
Wadi  ikan  betok  adalah  produk fermentasi yang berbentuk ikan utuh semi basah, kulit berwarna hitam, bertekstur liat dengan aroma spesifik, serta mempunyai rasa yang sangat asin. Pada prinsipnya, wadi dibuat dengan cara penggaraman kering (pickling) dengan konsentrasi garam 20-50% b/b pada suhu kamar selama tujuh hari hingga beberapa bulan di dalam suatu wadah tertutup rapat (Khairina, 1989).
Prinsip pengolahan wadi dengan proses fermentasi garam dan fermentasi laktat, dan berdasarkan hasil penelitian Khairina.











BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Fermentasi adalah proses  biologis  atau  semibiologis  pada yang dibedakan  atas  empat golongan.
a. Fermentasi menggunakan kadar garam tinggi, misalnya dalam pembuatan peda, kecap ikan, terasi dan bekasem.
b. Fermentasi  menggunakan  asam-asam organik, misalnya dalam pembuatan silase ikan dengan cara menambahkan asam-asam propionat dan format.
c. Fermentasi  menggunakan  asam-asam mineral, misalnya dalam pembuatan silase ikan menggunakan asam-asam kuat.
d. Fermentasi  menggunakan  bakteri, misalnya dalam pembuatan bekasem dan chao teri.
Faktor yang mempengaruhi fermentasi adalah suhu, oksigen, substrat, dan air. Itu semua adalah bertujuan agar dalam fermentasi mendapatkan hasil yang baik.











DAFTAR PUSTAKA
www.google.com





Tidak ada komentar:

Posting Komentar